Sebagai Sarjana Hukum, kita dididik dalam sebuah tradisi yang nyaris religius: memuja teks. Kita diajarkan bahwa hukum adalah seperangkat aturan yang logis, koheren, dan—yang paling penting—objektif. Kita dilatih untuk menjadi “penerjemah” yang setia dari teks undang-undang, memisahkan fakta dari fiksi, dan menerapkan pasal-pasal dengan presisi seorang ahli bedah. Kita diberitahu bahwa di hadapan hukum, semua…
